Sabtu, 05 April 2014

SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI



 PENDAHULUAN

Sekolah adalah  sebuah konsep yang mempunyai makna ganda. Pertama, sekolah berarti suatu bangunan atau lingkungan fisik dengan segala perlengkapannya yang merupakan tempat untuk menyelenggarakan proses pendidikan tertentu bagi kelompok manusia tertentu. Dengan demikian, apabila kita mendengar perkataan “sekolah” maka yang terbayang adalah lingkungan fisik seperti  itu. Bayangan sekolah sebagai lingkungan fisik seperti itu diperkuat dengan keseragaman relative mengenai bentuk bangunan dan perlengkapannya,sehingga dapat dikatakan bahwa kondisi fisik sekolah-sekolah yang sejenis dan setingkat relative sama. Kedua,sekolah berarti suatu proses atau kegiatan belajar mengajar. Kita bisa menggunakan istilah “menyekolahkan” anak, atau mengatakan”anak  saya bersekolah SMP Negeri 1”. Dalam hal ini apabila mendengar perkataan”sekolah”maka yang terbayang di kepala kita adalah proses pendidikan itu sendiri.
Jadi dalam hal ini sekolah dipandang sebagai sebuah pranata untuk memenuhi kebutuhan khusus tertentu. Bisa juga “sekolah”diartikan sebagai sebuah organisasi ,yaitu organiasi social yang mempunyai struktur tertentu yang melibatkan sejumlah orang dengan tugas melaksanakan suatu fungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan. Sesungguhnya ketiga pengertian itu selalu berdampingan,karena proses belajar berjalan dalam sebuah lokasi dan diselenggarakan oleh organisasi yang mempunyai struktur dan tujuan tertentu. Penampilan keterpaduan antara ketiga makna tersebut dipengaruhi oleh berbagai factor seperti jumlah,tingkat usia, serta karakteristik lain yang menandai orang-orang yang terlibat didalamnya serta tujuan,program kerja dan kegiatan yang dilaksanakan,lama waktu penyelenggaraan,dan pendekatan yang digunakan. Akan tetapi diantara semuanya itu terdapat persamaan yaitu bahwa setiap lembaga yang dinamakan sekolah berperan mengurusi manusia,bukan mengurusi benda-benda mati.
Dalam hal ini Setiap sekolah memiliki komponen-komponen sarana fisik seperti lahan,bangunan (kantor, ruang belajar,jamban,dan lain-lain),kurikulum,dan orang-orang (guru,pimpinan,karyawan non edukatif, dan pelajar). Komponen-komponen tersebut menyumbang dengan fungsi dan perannya untuk keberhasilan lembaga. Sebagai sebuah system,sekolah mempunyai keterkaitan dengan sistem lain yang jumlahnya tidak sedikit. Sistem luar itu meliputi antara lain orang tua siswa,komuniti sekitar sekolah dll. Pola hubungan antara sekolah dengan system lain diwarnai dan diisi dengan informasi-informasi yang berarah timbale balik. Input atau timbal balik itu dapat berupa dorongan bagi sekolah untuk mengadakan perubahan pada struktur atau interaksi edukatif di dalamnya atau untuk mempertahankan yang telah ada. Umpan balik yang menimbulkan perubahan disebut morfogenis,sedangkan yang mendorong untuk mempertahankan corak struktur dan interaksi yang telah ada dinamakan umpan balik yang bersifat morfostatis.










PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN SEKOLAH SEBAGAI OARGANISASI

1.      Sekolah
            Kata sekolah berasal dari bahasa latin, yakni skhole, scolae, skhoe atau scolae yang memiliki arti waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan diwaktu luang bagi anak-anak ditengah kegiatan mereka, yakni bermain dan menghabiskan waktu menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang adalah mempelajari cara berhitung, secara membaca huruf dan mengenal tentang moral ( budi pekerti ) dan estetika ( seni ). Utuk mendampingi dalam kegiatan scola anak-anak didampingi oleh orang ahli dan mengerti tentang psikologi anak, sehingga memeberikan kesempatan-kesempatan yang sebebsar-besarnya  kepada anak – anak untuk  menciptakan sendiri dunianya melalui berbagai pelajaran diatas.[1]
            Kini, kata sekolah dikatakan sunarto (1993 ), telah berubah berupa bangunan atau lembaga untuk belajar dan serta tempat memberi dan menerima pelajaran,. Sekolah dipimpin oleh seorang kepala sekolah, dan kepala sekolah dibantu oleh wakil kepala sekolah, jumlah kepala sekolah bisa berbeda pada tiap sekolahanya, tergantung dengan kebutuhan. Bangunan sekolah disusun meninggi untuk memenfaatkan tanah yang tersedia dan dapat diisi dengna fasilitas yang lain. Ketersidiaan sarana pada suatu sekolah memiliki peranan penting dalam terlaksanakan proses pendidikan.[2]
            Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang un tuk pengajaran siswa atau murid di bawah pengawasan pendidik ( guru ). sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib, dalam upaya menciptakan anak didik agar mengalami kemajuan setelah melalui proses pembelajaran. Nama- nama sekolah ini berfariasi menurut negara, tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak – anak muda dan sekolah menengah untuk remaja yang telah menyelesaikan sekolah dasar.[3]
            Ada pula sekolah non pemerintah, yang yang disebut sekolah swasta ( private schools ). Sekolah suwasta mungkin untuk anak- anak dengan kebutuhan khusus ketika pemerintah tidak bisa memberi sekolah khusus bagi mereka, keagamaan, seperti sekolah Islam ( madrasah, pesantren ) ; sekolah kristen, sekolah katolik, sekolah Hindu, sekolah Buda atau sekolah khusus lainya yang memeiliki standar lebih tinggi  untuk memepersiapkan prestrasi pribadi anak didik.[4]
2.      Organisasi
  Robert Presthus dalam bukunya The Organizational Society (1962) menyatakan bahwa masyarakat kita merupakan yang terdiri dari organisasi-organisasi.[5] Pernyataan tersebut menunjukkan betapa organisasi telah menjadi fenomena yang menonjol dalam kehidupan.  Jadi  organisasi merupakan kumpulan orang-orang  yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut Sondang P. Siagian organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk sesuatu tujuan bersama dan terikat secara formal.[6]
 Atmosudirdjo berpendapat bahwa organisasi adalah suatu bentuk kerja sama antara sekelompok orang-orang berdasarkan suatu perjanjian untuk bekerja sama guna mencapai tujuan yang tertentu.[7]
            Dari pendapat para ahli di atas dapat kita simpulkan bahwa organisasi adalah sekelompok orang yang memiliki visi dan misi sama yang saling berkaitan yang tidak dapat diganggu gugat dengan yang lainnya, sehinnga organisasi itu dapat berjalan dengan lancar dan sebagaimana mestinya.

3.      Sekolah Sebagai Organisasi
             Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara. Sebagai makhluk  yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk  organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.  Terbentuknya lembaga sosial berawal dari individu yang saling membutuhkan kemudian timbul aturan-aturan  yang dinamakan norma kemasyarakatan . lembaga sosial sering pula dinamakn pranata sosail. [8]
     Philip Robinson (1981) menyebut sekolah sebagai organisasi yaitu unit sosial yang secara sengaja dibentuk untuk tujuan-tujuan tertentu. Sekolah sengaja diciptakan untuk tujuan tertentu, yaitu memeudahkan pengajaran sejumlah pengetahuan.[9]
Sekolah sebagai organisasi memiliki perbedaan dengan organisasi lainnya, sebagai contoh dengan organisasi pabrik atau klub sepak bola. Secara umum, yang membedakan segala organisasi dari organisasi yang lainnya tujuan yang ingin dicapai. Sebuah pabrik sepatu dipastikan memiliki tujuan menghasilkan barang-barang jadi berupa alas kaki, sedangkan sekolah bertujuan menghasilkan individu-individu yang terdidik.[10]          

B.     SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI PEMBELAJAR
            Era global sekarang dengan tingkat perubahan yang sangat pesat mengakibatkan banyak ketidakpastian masa depan yang dilalui. Dengan ini menuntut setiap organisasi untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi permasalah tersebut. Berkaitan dengan lembaga pendidikan seperti sekolah, Hoy dan Miskle (2001) menyatakan perlunya sekolah menjadi organisasi pembelajar.[11]
            Menurut Bischoff organisasi pembelajar adalah organisasi yang mencari untuk menciptakan masa depannya, menjadikan pembelajaran sebagai proses kretif yang terjadi berkesinambungan bagi seluruh anggotanya, mengembangkan, beradaptasi, dan mentransformasikan dirinya dalam menjawab kebutuhan serta aspirasi orang – orang di dalam organisasi ataupun luar organisasi baik secara individu maupun kolaktif untuk terus meningkatkan kapasitas mereka dalam berkarya sesuai dengan perannya dalam organisasi.
            Sekolah pada dasarnya merupakan lembaga tempat di mana proses pembelajaran terjadi terutama dalam pemahaman konvesional, di mana belajar dilakukan oleh siswa dan guru berupayah untuk membelajarkan siswa agar dapat mencapai kompetensi yang diharapakan. Belajar dan pembelajaran siswa akan makin meningkat dan berkualitas apabila seluruh unsure dalam organisasi sekolah meningkat dan berkualitas sehingga kapasitas organisasi sekolah terus mengalami peningkatan dan perluasan kearah yang lebih baik dan produktif dalam perubahan dewasa ini.
            Sebagai lembaga pendidikan tempat terjadinya proses pembelajaran maka mengelola organisasi sekolah memerlukan kebijakan manajemen dan kepemimpinan yang dapat memberi ruang bagi tumbuh dan berkembangnya kreativitasnya dan inovasi. Oleh karena itu, organisasi perlu mengelola hal tersebut secara efektif untuk dapat menumbuhkan sinergitas dalam organisasi di antara berbagai individu yang terlibat di dalamnya.
C.    FUNGSI- FUNGSI SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI DAN SASARAN ORGANISASI SEKOLAH
            Sekolah sebagai organisasi sosial dalam sosiologi, peran dan fungsinya sebagai berikut :[12]
1.      Fungsi manestifasi pendidikan
Yaitu membantu orang mencari nafkah ; menolong mengembangkan potensinya demi pemenuhan kebutuhan hidupnya ; melestarikan kebudayaan dengan cara mengajarkanya kepada generasi kegenerasi berikutnya; merangsang partisipasi demokrasi melalui pengajaran keterampilan berbicara dan mengembangkan cara berfikir rasional dan lain-lain
2.      Fungsi laten lembaga pendidikan
Dimana fungsi ini bertalian dengan fungsi pendidikan secara tersembunyi yakni menciptakan atau melahirkan kedewasaan anak didik.

Dikatakan Horton dan Hurt( 1996 ) bahwa ada empat jenis sasaran organisasi sekolah. Tiap sasaran meliputi titik tolak pandangan terhadap organisasi sekolah dari empat pandangan itu, diharapkan dapat memahami tentang organisasi sekolah. Yaitu :[13]
Pertama, sasaran formal dimana ruang lingkup sasaran ini meliputi tujuan formal dari suatu organisasi, wujud dari sasaran ini tercantum dalam aturan-aturan tertulis. Tuntutan formal organisasi menghendaki agar tugas dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan sekolah Untuk mencapai tujuan dibagi secara merata dengan baik sesuai dengan kemampuan, fungsi dan wewenang yang telah ditentukan. Melalui stuktur  organisasi yang ada, tercermin adanya tugas dan wewenang kepala sekolah, tugas dan guru dan staf administrasi sekolah.
Kedua, sasaran informal, dimana tidak sepenuhnya bekerja sesui dengan ketentuan formal. Dalam banyak hal, lebih dimodifikasi oleh tiap anggotanya sesuai dengan kapasitas pemaknaan kesadaran mereka tentang organisasi. Di sekolah seorang kepala sekolah mungkin mendapat tanggung jawab sebagai pemimpin dan penguasa formal tertinggi. Akan tetapi, pemnerimaan dan pola fikir serta tingkah laku kepala sekolah merupakan konstruksi pemahaman subjektifnya dalam kelangsungan hubungan dengan berbagai pihak dilingkungan sekolahnya. Jadi, sasaran informal merupakan interprestasi dan modifakasi sasaran – sasaran formal dari seluruh anggota yang terlibat langsung pada wadah organisasi. Sasaran ini mencakup pula persepsi masing – masing indifidu dan menjadi tujuan kegiatan pribadi dalam organisasi. Masing – masing siswa tentunya memiliki tujuan yang berfariasi dalam kelangsungan setatusnya sebagai pelajar. Mungkin ada yang berharap mendapat prestasi akademik tinggi atau memperoleh ijazah, serta ada juga yang hanya menjalankan taradisi masyarakat. Seorang pendidik mungkin hanya untuk mencari gaji, tetapi sebagianlainya masih memiliki loyalitas dan komitmen sebagai pedidik.
Ketiga, sasaran idealogis. Seperti tersirat dalam istilah tersebut, sasaran idealogis bertalian dengan seperangkat sistem eksternal atau sistem nilai yang diyakini bersama. Dalm hal ini, nuansa budaya pada pengertian sebagai suati sistem pengetahuan, gagasan dan idea yang dimiliki suatu kelompok masyarakat yang berfungsi sebagai landasan pijak dan pedoman bagi masyarakat itu dalam bersikap dan berorilaku dalam lingkungan alam dan sosial tempat mereka bernaung . hal inimerupakan penjabaran dari pengaruh idealogis terhadap organisasi.  Sasaran ini mayoriti pengaruh interaktif kultural idealogis yang dianut oleh sebagian besar manusia dalam manangkap,menyikapi dan merespons ekstensi organisasi. Suatu bangsa umumnya memiliki semangat yang tinggi untuk meraih prestasi vertikal, sementara sekolah merupakan wadah yang cukup strategis bagi mansia untuk menopang ambisi mobilitas vertikalnya. Maka, bisa diamsusikan hampir sebagian besar warga sekolah maupun masyarakat akan mengarahkan keyakinan kultural tersebut dalam memaknai keberadaan sekolah.
 Keempat, sasaran-sasaran lain yang kurang begitu kuat. Penekanan sasaran ini akan menonjol pada suatu proses aktifitas organisasi yang biasa. Berkurangnya pendaftaran di dekolah-sekolah dan universitas dapat mengubah secara luas peran para pendidik atau organisasi ruang sekolah, termasuk rasioi pendidik ( guru ) terhadap anak didik ( siswa ) beserta kelas – kelas yang terpesialisasi . jika tidak, sejumlah pendidik akan menganggur.
Dari pendapat Horton dan Hurt ( 1996 ) tentang jenis sasaran sekolah di atas, mengisaratkan suatu pola pandang berbeda dari pandangan umum tantang sekolah. Sebagai organisasi, sekolah bukan hanya sekedaar tumpukan peran-peran tumpukan struktural yang kakau, statis dan jalur kerja yang serba mekanistis belaka. Mekanisme itu mengalam dinamika akualisasi melalui aneka ragam interpretasi para anggota yang melatarbelakangi perilaku manusia dalam mengembangkan peran dan status yang berbeda beda.[14]

D.    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SUSUNAN ORGANISASI SEKOLAH 
            Ada beberapa faktor yang dapat memepengaruhi perbedaan dalam susunan organisasi sekolah, antara lain :[15]
1.      Besar kecilnya sekolah
Ada sekolah yang mempunyai banyak merid, banyak guru dan banyak pula ruangan belajarnya, tetapi ada pula yang sebaliknya. Ada sekolah yang banyak murid-muridnya, tetapi tidak cukup guru-gurunya, tidak cukup ruangan belajarnya, dsb
2.      Letak sekolah
Sekolah yang berada dikota besar berlainan sekolah di kota kecil, dikota kecamatan, di pegunungan, dipinggir pantai, dsb. Letak sekolah atau lingkungan sekolah menentukan tokoh-tokoh masyarakat siapakah yang perlu diikut sertakan  didalam membangun dan membina sekolah itu.
3.      Jenis dan tingkatan sekolah
Sekolah kejurusan berbeda dengan sekolah umum, sekolah dasar berbeda dengan SLP/SLA, dan berbeda pula dengan perguruan tinggi.

E.     PENTINGNYA ORGANISASI SEKOLAH YANG BAIK
            Sekolah, sebagai suatu lembaga pendidikan yang didalamnya terdapat kepala sekolah, guru-guru, pegawai  tata usaha dan murid-murid, memerlukan adanya organisasi yang baik agar jalanya sekolah itu  lancar menuju kepada jalanya.[16]
            Menurut sistem persekolahan di Negeri kita, pada umumnya kepala sekolah merupakpan jabatan yang tertinggi  di sekolah itu sehingga dengan demikian kepala sekolah memegang perananan dan pimpinan segala sesuatunya yang berhubungan dengan tugas sekolah dengan demikian kepala sekolah memegang peranana dan pimpinan segala sesuatunya yang berhubungan drngan tugas sekolah ke dalam maupun keluar. Maka dari itu, dalam stuktur organisasi sekolah sekolah pun kepala sekolah biasanya selalu didudukan di tempat yang paling atas.[17]
            Fktor lain yang menyebabkan perlunya organisasi sekolah yang baik ialah karena tugas guru-guru tak hanya mengajar saja juga pegawai- pegawai tata usaha, pesuruh dan penjaga sekolah dan lain-lain. Semuanya harus bertanggung jawab dan didkut sertakan dalam menjalankan roda sekolah itu secara keseluruhan. Dengan demikian agar janga terjadi tabrakan dalam memegang atau menjalankan tugasnya masing-masing, diperlukan organisasi sekolah yang baik dan teratur.[18]
            Dengan organisasi sekolah yang baik dimaksudkan agar pembagian tugas dan tanggung jawab dapat merata kepada semua orang sesuai dengan kecakapan dan fungsinya masing- masing. Tiap orang mengerti dan menyadari tugasnya dan tempatnya didalam setruktur organisasi itu. Dengan demikian dapat dapat dihindari pula adanya tindakan yang sewenang-wenang atau otoriter dari kepala sekolah, dan sebaaliknya dapat diciptkan danya suasana yang demokratis didalam menjalankan roda sekolah ini.[19]











KESIMPULAN
            Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan Negara.
            Sekolah sebagai organisasi sosial dalam sosiologi, peran dan fungsinya sebagai berikut :
1.    Fungsi manestifasi Pendidikan
2.    Fungsi Laten Lembaga Pendidikan
            Ada beberapa faktor yang dapat memepengaruhi perbedaan dalam susunan organisasi sekolah, antara lain :
1.      Besar Kecilnya Sekolah
2.      Letak Sekolah
3.      Jenis dan Tingkatan Sekolah








DAFTAR PUSTAKA
Idi, Abdullah. 2011. Sosio Logi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada
SuharSaputra, Uhar. 2013. Administrasi Pendidikan. Bandung : Refika Aditama
Mahmud. 2012. Sosiologi Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia
Purwanto, Ngalim. 2010. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : Remaja          Rodaskarya



       [1] Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : Rajagarafindo Persada, 2011),hlm.142
       [2] Ibid.,
       [3] Ibid.,
       [4] Ibid, 143
       [5] Uhar Suharsaputra, Administrasi Pendidikan ( Bandung : Refika Aditama, 2013 ), hlm.26
       [6] Ibid, hlm. 27
       [7] Ibid.,
       [8] Abdullah Idi, Loc. Cit
       [9] Mahmud, Sosiologi Pendidikan, ( Bandung : Pustaka Setia, 2012 ), hlm.163
       [10] Ibid.
       [11] Uhar Suharsaputra, Op. Cit, hlm. 34-35
       [12] Abdullah Idi, Op. Cit, hlm. 158
       [13] Ibid, hlm. 158-159
       [14] Ibid.
       [15]Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, ( Bandung : Remaja Rodaskarya,2010), hlm. 161
       [16] Ngalim Purwanto, Op. Cit, hlm. 160
        [17] Ibid.
       [18] Ibid.
       [19] Ibid.

Kamis, 26 September 2013

RUANG LINGKUP STUDT ISLAM




Selasa, 23 April 2013


PENGANTAR STUDI ISLAM



I.                  PENDAHULUAN
Islam merupakan agama yang terakhir sebagai penutup semua agama yang telah ada, islam merupakan agama rahmatal lil a’lamin untuk semua umat.Islam itu dibawakan oleh nabi Muhammad SAW yang mendapat wahyu dari Allah. Untuk mengetahui islam lebih mendalam mak muncullah ilmu yang dinamakan Studi Islam akan tetapi Studi Islam itu sendiri merupakan bidang kajian yang cukup lama. Ia telah ada bersama dengan adanya agama islam maka dari itu Studi Islam menimbulkan berbagai permasalahn yang umum diantaranya : apa penertian Studi Islam, apa ruang lingkup, atau objek Studi Islam, apa tujuan Studi Islam, bagaimana pendekatan dan metodologi dalam Studi Islam.
Seiring dinamika dan perkembangan zaman, kesempatan untuk mempelajari Studi Islam dapat melalui segala hal, berkaitan dengan persoalan tentang mempelajari Studi Islam, islam memberikan kesempatan secara luas kepada manusia untuk menggunakan akal pikirannya secara maksimal untuk mempelajarinya, namun jangan sampai penggunaannya melampaui batas dan keluar dari rambu-rambu ajaran Allah SWT.
 Dan didalam makalah ini akan membahas permasalahan-permasalahan itu semua secara lebih umum.
II.               PERMASALAHAN
A.    Apa pengertian  Studi Islam ?
B.     Apa ruang lingkup Studi Islam ?
C.     Apa tujuan Studi Islam ?
D.    Bagaimana Pendekatan dan Metodologi Studi Islam ?
III.           PEMBAHASAN
A.    Pengertian Studi Islam
Istilah Studi Islam dalam bahasa Inggris adalah Islamic Studies, dan dalam bahasa Arab adalah Dirasat al-Islamiyah. Ditinjau dari sisi pengertian, Studi Islam secra sederhana dimaknai sebagai “kajian islam”. Pengrtian Studi Islam sebagai kajian islam sesungguhnya memiliki cakupan makna dan penertian yang luas.Hal ini wajar adanya sebab sebuah istilah akan memiliki makna tergantung kepada mereka yang menafsirkannya.Karena penafsir memiliki latar belakang yang berbeda satu sama lainnya, baik latar belakang studi, bidang keilmuan, pengalaman, maupun berbagai perbedaan lainnya, maka rumusan dan pemaknaan yang dihasilkannyapun juga akan berbeda.
Selain itu, kata Studi Islam sendiri merupakan gabungan dari dua kata, yaitu kata Studi dan kata Islam. Kata studi memiliki berbagai pengertian.Rumusan Lester Crow dan Alice Crow menyebutkan bahwa Studi adalah kegiatan yang secara sengaja diusahakan dengan maksud untuk memperoleh keterangan, mencapai pemahaman yang lebih besar, atau meningkatkan suatu ketrampilan.
Sementara kata Islam sendiri memiliki arti dan makna yang jauh lebih kompleks. Kata Islam berasal dari kata Aslama yang bararti patuh dan berserah diri. Kata ini berakar pada kata silm yang berarti selamat, sejahtera, dan damai.
Adapun pengertian Islam secara terminologis sebagaimana yang dirumuskan para ahli ulama dan cendikiawan bersifat sangat beragam tergantung dari sudut pandang yang digunakan. Salah satu rumusan definisi Islam adalah wahyu Allah yang disampaikan kepada nabi Muhammad Saw.[1]
Sedangkan Studi Islam dibarat dikenal dengan istilah Islamic Studies, secara sederhana dapat dikatakan sebagai usaha untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan agama islam. Usaha mempelajari agama Islam tersebut dalam kenyataannya bukan hanya dilaksanakan oleh kalangan umat islam saja, melainkan juga dilaksanakan oleh orang-orang diluar kalangan umat islam.[2]
Studi keislaman dikalangn umat islam sendirinya tentunya sangat berbeda tujuan dan motivasinya dengan yang dilakukan oleh orang-orang diluar kalangan umat islam. Dikalangan umat islam, studi keislaman bertujuan untuk memahami dan mendalami serta membahas ajaran-ajaran islam agar mereka dapat melaksanakan dan mengamalkannya dengan benar. Sedangkan diluar kalangna umat islam, studi keislaman bertujuan untuk mempelajari seluk-beluk agama dan praktik-praktik agama yang berlaku dikalangan umat islam, yang semata-mata sebagai ilmu pengetahuan. Namun sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang seluk-beluk agama dan praktik-praktik keagamaan islam tersebut bias dimanfaatkan atau digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu, baik yang bersifat positif maupun negative.
B.     Ruang lingkup Studi Islam
Menurut Muhammad Nur Hakim, tidak semua aspek agama khususnya islam dapat menjadi obyek studi. Dalam konteks Studi Islam, ada beberapa aspek tertentu dari islam yang dapat menjadi obyek studi, yaitu:
1.      Islam sebagai doktrin dari tuhan yang kebenarannnya bagi pemeluknya sudah final, dalam arti absolut, dan diterima secara apa adanya.
2.      Sebagai gejala budaya yang berarti seluruh apa yang menjadi kreasi manusia dalam kaitannya dengan agama, termasuk pemahaman orang terhadap doktrin agamanya.
3.      Sebagai interaksi sosial yaitu realitas umat islam.
Sementara menurut Muhammmad Amin Abdullah terdapat tiga wilayah keilmuan agama islam yang dapat menjadi obyek studi islam:
1.      Wilayah praktek keyakianan dan pemahaman terhadap wahyu yang telah diinterpretasikan sedemikian rupa oleh para ulama, tokoh panutan masyarakat pada umumnya. Wilayah praktek ini umumnya tanpa melalui klarifikasi dan penjernihan teoritik keilmuan yang di pentingkan disisni adalah pengalaman.
2.         Wilayah tori-teori keilmuan yang dirancang dan disusun sistematika dan metodologinya oleh para ilmuan, para ahli, dan para ulama sesuai bidang kajiannya masing-masing. Apa yang ada pada wilayah ini sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah “teori-teori” keilmuan agama islam, baik secara deduktif dari nash-nash atau teks-teks wahyu , maupun secara induktif dari praktek-praktek keagamaan yang hidup dalam masyarakat era kenabian, sahabat, tabi’in maupun sepanjang sejarah perkembangan masyarakat muslim dimanapun mereka berada.
3.      Telaah teritis yang lebih popular disebut metadiscourse, terhadap sejarah perkembangan jatuh bangunnya teori-teori yang disusunoleh kalangan ilmuan dan ulama pada lapis kedua. Wilayah pada lapis ketiga yang kompleks dan sophisticated inilah yang sesungguhnya dibidangi oleh filsafat ilmu-ilmu keislaman.
Sedangkan menurut M.Atho’ Mudzhar menyatakan bahwa obyek kajian islam adalah substansi ajaran-ajaran islam, seperti kalam, fiqih dan tasawuf. Dalam aspek ini agama lebih bersifat penelitian budaya hal ini mengingat bahwa ilmu-ilmu keislaman semacam ini merupakan salah satu bentuk doktrin yang dirumuskan oleh penganutnya yang bersumber dari wahyu Allah melalui proses penawaran dan perenungan.[3]
C.     Tujuan Studi Islam
Studi Islam sebagai usaha untuk mempelajari secara mendalam tentang islam dan segala seluk beluk yang berhubungan dengan agama islam sudah barang tentu mempunyai tujuan yang jelas, yang sekaligus menunjukan kemana Studi Islam tersebut diarahkan. Dengan arah dan tujuan yang jelas itu, maka dengan sendirinya Studi Islam akan merupakan usaha sadar dan tersusun secara sistematis.
Adapun arah dan tujuan Studi Islam dapat dirumuskan sebagai berikut :   
1.    Untuk mempelajari secara mendalam tentang apa sebenarnya (hakikat) agam islam itu, dan bagaimana posisi serta hubungannya dengan agama-agama lain dalam kehidupan budaya manusia.
Sehubungan dengan ini, Studi Islam dilaksanakan berdasarkan asumsi bahwa sebenarnya agama islam diturunkan oleh Allah adalah untuk membimbing dan mengarahkan serta menyempurnakan pertumbuhan dan perkembangan agama-agama dan budaya umat dimuka bumi.
2.     Untuk mempelajari secara mendalam pokok-pokok isi ajaran agama islam yang asli, dan bagaimana penjabaran dan operasionalisasinya dalam pertumbuhan dan perkembangan budaya peradaban islam sepanjang sejarahnya. Studi ini berasumsi bahwa agama islam adalah fitrah sehingga pokok-pokok isi ajaran agama islam tentunya sesuai dan cocok dengan fitrah manusia. Fitrah adalah potensi dasar, pembawaan yang ada, dan tercipta dalam proses pencipataan manusia.
3.    Untuk mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama islam  yang tetap abadi dan dinamis, dan bagaimana aktualisasinya sepanjang sejarahnya. Studi ini berdasarkan asumsi bahwa agama islam sebagai agama samawi terakhir membawa ajaran yang bersifat final dan mampu memecahkan masalah kehidupan manusia, menjawab tantangan dan tuntutannya sepanjang zaman.Dalam hal ini sumber dasar ajaran agama islam akan tetap actual dan fungsional terhadap permasalahan hidup dan tantangan serta tuntutan perkembangan zaman tersebut.
4.       Untuk mempelajari secara mendalam prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar ajaran agama islam, dan bagaimana realisasinya dalam membimbing dan mengarahkan serta mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern ini. Asumsi dari studi ini adalah, islam yang meyakini mempunyai misi sebagai rahmah li al-‘alamin tentunya mempunyai prinsip dasar yang bersifat universal, dan mempunyai daya dan kemampuan untuk membimbing, mengarahkan dan mengendalikan factor-faktor potensial dari pertumbuhan dan perkembangan system budaya dan peradaban modern.[4]
D.    Pendekatan dan Metodologi Studi Islam
Untuk melakukan Studi Islam ada beberapa istilah yang perlu dipahami dengan baik. Pemahaman terhadap istilah-istilah ini akan memudahkan untuk memasuki bidang studi islam. Istilah-istilah tersebut adalah pendekatan, metode dan metodologi. [5]
Pendekatan adalah cara memperlakuakan sesuatu Sementara metode merupakan cara mengerjakan sesuatu . Sedangkan metodologi yaitu langkah-langkah praktis dan sistematis yang ada dalam ilmu-ilmu tertentu yang sudah tidak dipertanyakan lagi karena sudah bersifat aplikatif.
 Berikut akan diuraikan beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam studi islam:
1.         Pendekatan Historis
Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu objek, latar belakang, dan pelaku peristiwa tersebut, sedangkan
Yang dimaksud pendekatan historis adalah meninjau suatu permasalahan dari sudut peninjauan sejarah, dan menjawab permasalahan, serta menganalisisnya dengan menggunakan metode analisis sejarah. Sejarah atau historis adalah studi yang berhubungan dengan peristiwa atau kejadian masa lalu yang menyangkut kejadian atau keadaan sebenarnya. Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis kealam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam  idealis dengan di alam empiris dan historis.[6]
2.         Pendekatan Filosofis
Yang dimaksudkan pendekatan filosofis adalah melihat suatu permasalahan dari sudut tinjauan filsafat dan berusaha untuk menjawab dan memecahkan permasalahan itu dengan menggunakan metode analisis spektulatif. Pada dasarnya filsafat adalah berpikiran untuk memecahkan masalah atau pertanyaan dan menjawab suatu persoalan, namuk demikian tidak semua berpikir untuk memecahkan dan menjawab suatu permasalahan dapat disebut filsafat yang dimaksud filsafat disini adalah berpikir secara sistematis, radikal dan universal. Di samping itu,filsafat mempunyai bidang (objek yang dipikirkan) sendiri,yaitu bidang atau permasalahan yang bersifat filosofis yakni bidang yang terletak diantara dunia ketuhanan yang ghaib dengan dunia ilmu pengetahuan yang nyata. Dengan demikian filsafat yang menjembatani kesenjangan antara maslah-masalah yang bersifat keagamaan semata-mata dengan masalah yang bersifat ilmiah.
3.         Pendekatan Ilmiah
Yang dimaksud pendekatan ilmiah adalah meninjau dan menganalisis suatu permasalahan atau objek studi dengan menggunakan metode ilmiah pada umumnya. Diantara ciri pokok dari pendekatan ilmiah adalah terjaminnya objektifitas dan keterbukaan dalam studi. Objektifitas suatu studi akan terjamin jika kebenarannya bisa dibuktikan dan didukung oleh dat empiris, konkret, dan rasional. Sedangkan keterbukaan suatu studi terjadi jika kebenaran bisa dilacak oleh siapa saja. Disamping itu,pendekatan ilmiah selalu siap dan terbuka menerima kritik terhadap kesimpulan studinya.
4.    Pendekatan Doktriner
    Adapun pendekatan doktriner atau pendekatan studi islam secara konvensioanal merupakan pendekatan studi di kalangan umat islam yang berlangsung adalah bahwa agama islam sebagai objek studi diyakini sebagai sesuatu yang suci dan merupakan doktrin-doktrin yang berasal dari illahi yang mempunyai nilai (kebenaran) absolut, mutlak dan universal. Pendekatan doktriner juga berasumsi bahwa ajaran islam yang sebenarnya adalah ajaran islam yang berkembang pada masa salaf yang menimbulkan berbagai mazhab keagamaan,baik teologis maupun hukum-hukum atau fiqih,yang kemudian di anggap sebagai doktrin-doktrin yang tetap dan baku.[7]
5.      Pendekatan Normatif
Maksud pendekatan normative adalah studi islam yang memandang masalah dari sudut legal formal dan atau normatifnya. Maksud legal formal adalah hubungannya dengan halal dan haram, boleh atau tidak dan sejenisnya. Sementara normatif adalah seluruh ajaran yang terkandug dalam nash. Dengan demikian, pendekatan normatif mempunyai cakupan yang sangat luas. Sebab seluruh pendekatan yang digunakan oleh ahli ushul fiqih (usuliyin), ahli hukum islam (fuqoha), ahli tafsir (mufassirin), dan ahli hadist (muhadditsin) yang berusaha menggali aspek legal-formal dan ajaran islam dari sumbernya adalah ternasuk pendekatan normatif.[8]
Kelima pendekatan tersebut dimaksudkan bukanlah sebagai pendekatan-pendekatan yang dilaksanakan secara terpisah satu dengan yang lainnya, melainkan merupakan satu kesatuan sistem yang dalam pelaksanaannya secara serempak yang satu melengkapi lainnya (complement) atau merupakan system pendekatan system (systemic approach) .
Dalam hubungannya dengan Studi Islam, metodologi berarti membahas kajian-kajian seputar berbagai macam metode yang bisa digunakan dalam Studi Islam.
Adapun metode studi islam secara lebih rinci dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.      Metode Ilmu Pengetahuan
Metode ilmu peuju pengetahuan atau metode ilmiah yaitu cara yang harus dilalui oleh proses ilmu sehingga dapat mencapai kebenaran. Oleh karenanya maka dalam sains-sains spekulatif mengindikasikan sebagai jalan menuju proposisi-proposisi mengenai yang ada atau harus ada, sementara dalam sains-sains normative mengindikasikan sebagai jalan menuju norma-norma yang mengatur perbuatan atau pembuatan sesuatu.
2.      Metode Diakronis
Suatu metode mempelajari islam menonjolkan aspek sejarah. Metode ini memberi kemungkinan adanya studi komparasi tentang berbagai penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam islam, sehinggga umat islam memiliki pengetahuan yang relevan, hubungan sebab akibat dan kesatuan integral. Metode diakronis disebut juga metode sosiohistoris, yakni suatu metode pemahaman terhadap suatu kepercayaan, sejarah atau kejadian dengan melihat suatu kenyataan yang mempunyai kesatuan yang mutlak dengan waktu, tempat, kebudayaan, golongan, dan lingkungan dimana kepercayaan, sejarah atau kejadian itu muncul.
3.      Metode Sinkronis-Analistis
Suatu metode mempelajari islam yang memberikan kemampuan analisis teoritis yang sangat berguna bagi perkembangan keimananan dan mental intelek umat islam. Metode ini tidak semata-mata mengutamakan segi aplikatif praktis, tetapi juga mengutamakan telaah teoritis.
4.      Metode Problem Solving (hill al-musykilat)
Metode mempelajari islam yang mengajak pemeluknya untuk berlatih menghadapi berbagai masalah dari satu cabang ilmu oengetahuan dengan solusinya. Metode ini merupakan cara penguasaan ketrampilandari pada pengembangan mental-intelektual, sehingga memiliki kelemahan, yakni perkembangan pemikiran umat islam mungkin hanya terbatas pada kerangka yang sudah tetap dan akhirnya bersifat mekanistis.
5.      Metode Empiris
Suatu metode mempelajari islam yang memungkinkan umat islam mempelajari ajarannya melalui proses realisasi, dan internalisasi norma dan kaidah islam dengan satu proses aplikasi yang menimbulakan suatu interaksi sosial, kemudian secar deskriptif proses interaksi dapat dirumuskan dan suatu norma baru.
6.      Metode Deduktif (al-Manhaj al-Isthinbathiyah)
Suatu metode memahami islam dengan cara menyusun kaidah secar logis dan filosofis dan selanjutnya kaidah itu diaplikasikan untuk menuntukan masalah yang dihadapi. Metode ini dipakai untuk sarana meng-istinbatkan hukum-hukum syara’, dan kaidah-kaidah itu benar bersifat penentu dalam masalah-masalah furu’ tanpa menghiraukan sesuai tidaknya  dengan paham mazhabnya.
7.      Metode Induktif (al-Manhaj al-Istiqraiyah)
Suatu metode memahami islam dengan cara menyusun kaidah hokum untuk diterapkan kepada masalah-masalah furu’  yang disesuaikan denagn madzhabnya terlebih dahulu. Metode pengkajiannya dimulai dari masalah-masalah khusus, lalu dianalisis, kemudian disusun kaidah hokum dengan catatan setelah terlebih dahulu disesuaikan dengan paham mazhabnya.[9]
VI.   KESIMPULAN / PENUTUP
Studi Islam meliputi kajian agama islam dan tentang aspek-aspek keislaman masyarakat dan budaya muslim. Menurut pendapat para ulama objek Studi Islam meliputi islam sebagai doktrin dari Tuhan, substansi ajaran-ajaran islam dan interaksi sosial. Adapun tujuan Studi Islam adalah sebagai wawasan normative, kontekstual, aplikatif dan konstribusi konkret terhadap dinamika dan perkembangan yang ada, mendapatkan gambaran tentang agama islam secara luas, mendalam namun utuh, dan dinamis.
Ada beberapa pendekatan Studi Islam antara lain, pendekatan historis, filosofis,ilmiah doktriner dan normatif
Demikianlah  makalah ini kami buat. Tentunya masih banyak kesalahan yang terdapat dalam makalah ini untuk menuju yang lebih baik lagi, kritik dan saran kami butuhkan demi kesempurnaan makalah selanjutnya. Kami ucapkan terimakasih dan mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Amien.
IV.             DAFTAR PUSTAKA
Naim Ngainun, Pengantar Studi Islam, Yogyakarta: Teras, 2009.
Syukur M.Amin dkk, Metodologi Studi Islam, Semarang: Gunung jati, 1998.
Nasution Khoirodin, Pengantar Studi Islam, Yogyakarta: Academia+ Tazzafa, 2009.
Nata Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2009
Muhaimin dkk, Studi Islam Dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan Jakarta: Kencana, cet III, 2012
V.                BIODATA  PEMAKALAH
1.      Nama                     : Zulia Nur Salamah
NIM                      : 123911117
Jurusan/Prodi        : Tarbiyah/PGMI
TTL                       : Demak, 30 Desember 1994
Tempat Tugas        : Depan Perpustakaan
Pendidikan                        : SD N  Morodemak
                                MTs Sunan Barmawi Morodemak
                                MANU – 3 Ittihad Bahari Purworejo
                                SI IAIN WALISONGO SEMARANG
Alamat                  : Morodemak, Bonang, Demak
Nomor Telepon     : 089670103533
E-mail                    : zulia_nursalamah@yahoo.com
2.      Nama                     : Zulfatussakinah
NIM                      : 123911116
Jurusan                  : PGMI
TTL                       : Tegal, 9 Maret 1994
Tempat Tugas        : Depan Perpustakaan
Pendidikan                        : SD N Sidakaton 1
                                MTS AL-HIKMAH 2  Benda
                                MA NU Banat Kudus
                                SI IAIN WALISONGO SEMARANG
Alamat                  : Sidapurna Dukuhturi Tegal
No.Telp                 : 085742656545
e-mail                    : see_zulfa@yahoo.com
3.      Nama                     : Zahlul Rizka Rohmah
NIM                      : 123911115
Jurusan                  : PGMI
TTL                       : Kendal, 2 Maret 1994
Tempat Tugas        : Depan Perpus
Pendidikan                        : SD N 01 Brangsong
                                SMP N 01 Brangsong
                                SMA N 2 Kendal
Alamat                  : Ds.Sumberejo RT 02 RW 07, Kaliwungu Kendal
Nomor Telepon     : 087700375482
E-mail                    : zahlulrizka@yahoo.com
4.      Nama                     : Ulfiana Rifa’ah
NIM                      : 123911107
TTL                       : Blora, 26 November 1994
Tempat Tugas        : Depan perpustakaan
Pendidikan                        : MI Salafiyah 1 Randublatung
                                MTS  Salafiyah 1 Radublatung
                                MA Khozanatul Ulum Blora
                                SI IAIN WALISONGO SEMARANG
Nomor Telepon     : 085740180212
e_mail                    : Ulfirifa@yahoo.com
            


[1] Ngainun Naim, Pengantar Studi Islam, Yogyakarta:Teras, 2009, hlm 1-3
[2] Muhaimin dkk, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan, Jakarta; Kencana, 2012, hlm 1
[3] Ngainun Naim, Pengantar Studi Islam, Yogyakarta:Teras, 2009, hlm.5-9
[4] Muhaimin dkk, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan, Jakarta: Kencana, 2012, hlm 9-12
[5] Ngainun Naim, Pengantar Studi Islam, Yogyakarta: Teras, 2009, hlm 10
[6] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali pers, 2009, hlm 46-47
[7] Muhaimin dkk, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan, Jakarta: Kencana, 2012, hlm 12-14
[8] Khoirudin Nasution, Pengantar Studi Islam, Yogyakarta: Academia+ Tazzafa, 2009 hlm 13
[9] Muhaimin dkk, Pengantar Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan, Jakarta: Kencana , 2012, hlm 15-17